CANTIK DIBALIK KERUDUNG

“Wanita sejati bukanlah dilihat dari bentuk tubuhnya yang mempesona, tetapi dilihat dari sejauhmana ia menutupi bentuk tubhnya. Wanita sejati bukanlah dilihat dari Kecantikan paras wajahnya, tetapi dari kecantikan hati yang ada dibalikmya. Wanita sejati bukanlah dilihat dari begitu banyak kebaikan yang diberikan, tetapi dari keihklasan ia memberikan kebaikan itu. Wanita sejati bukanlah dilihat dari seberapa indah lantunan suaranya, tetapi dari apa yang sering mulutnya bicarakan. Wanita sejati bukanlah dilihat dari keahlihannya berbahasa, tetapi dilihat dari bagaimana caranya berbicara. Wanita sejati bukanlah dilihat dari keberaniannya berpakaian, tetapi dilihat dari sejauhmana ia berani mempertaruhkan kehormatannya. Wanita sejati bukanlah dilihat dari kekawatirannya digoda orang lain dijalan, tetapi dilihat dari kekawatirannya yang mengundang orang lain jadi tergoda. Wanita sejati bukanlah dilihat dari seberapa banyak dan besarnya ujian yang ia jalani, tetapi dilihat dari sejauhmana ia menghadapi ujian itu dengan syukur. Dan ingatlah..........!!!!!!!! Wanita sejati bukanlah dilihat dari sifat supelnya dalam bergaul, tetapi dilihat dari sejauh mana ia bisa menjaga kehormatanya dalam bergaul....... Wassalam........... “semoga bisa menjadikan kita bertafakkur ya ikhwati”

Senin, 17 Oktober 2011

Mengapa Sufi Akrab dengan Seni?

tasawuf

Prof Dr Nasaruddin Umar

Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta

Pertanyaan ini menarik un tuk dikaji, apakah seni menjadi faktor dalam pro ses pencapaian target kaum sufi atau karena perilaku sufi yang mengekspresikan nilai seni, atau keduanya saling berkontribusi? Artinya, seni bisa membantu melahirkan suasana batin yang halus, indah, dan estetis. Pada saat bersamaan, jiwa sufi yang halus, lembut, dan estetis mengekspresikan sesuatu yang bernilai seni.

Dalam lintasan sejarah dunia Islam, banyak sekali sufi yang seniman dan seniman yang jadi sufi. Bahkan, terkadang ada di antara mereka sulit membedakan mana di antara keduanya lebih menonjol pada diri seorang sufi, apakah dia sebagai sufi atau sebagai seniman. Sebut saja Jalaluddin Rumi, yang lahir di Balkh, 6 Rabiul Awal 604 H atau 30 September 1207 M. Ia dikenal bukan hanya sebagai sufi yang mampu menjadi komposer seni musik, yang lebih dikenal dengan sebutan whirling darvisis (shema), tetapi juga melalui puisinya yang terekam di dalam master piece-nya, Mathnawi, yang oleh pengikutnya disebut sebagai ‘Alquran dalam bahasa Persia’ atau wahyu tentang makna batin Alquran.


Hegel menganggap Rumi sebagai penyair dan pemikir terbesar dalam sejarah dunia. Pujian senada dituturkan Maurice Barres, penulis Prancis. Setelah bergelut dengan puisi-puisi Rumi, ia menyadari akan kekurangan Shakespeare, Goethe, dan Hugo. Prof RA Nicholson setelah me nerjemahkan Mathnawi ke dalam versi Inggris, menyebut Rumi sebagai penyair mistik terbesar sepanjang abad (the greatest mystic poet of any age).

Sejak semula, Islam dan dunia seni memang bagaikan sebuah mata uang yang memiliki dua sisi. Islam tanpa seni dan seni tanpa Islam tidak akan mencapai kesempurnaan. Islam merupakan ajaran Tuhan yang memerlukan seni di dalam mengartikulasikan kedalaman aspek kebatinan dari ajaran itu. Seni merupakan bagian dari sisi dalam manusia yang membutuhkan lokus untuk mengaktualisasikan nilai-nilai estetisnya. Islam dan seni menuntut ekspresi rasa yang amat mendalam dari manusia. Islam berisi ajakan kelembutan, kedamaian, kehalusan, dan harmoni kepada pemeluknya, sedangkan seni menawarkan ajakan-ajakan itu.

Islam dan seni keduanya mencitrakan hal-hal yang bersifat universal, seperti nilai-nilai etika dan estetika. Seni memiliki potensi yang amat dalam untuk men dekatkan diri sedekat-dekatnya seorang hamba kepada Tuhan nya. Dengan seni, seseorang dapat me rasakan keindahan, ketenangan, kehangatan, kerinduan, ke syahduan, dan keheningan. Suasana batin seperti ini sangat dibutuhkan dan merupakan dam baan para pencari Tuhan (salik).

Ada kesan di dalam masyarakat kita seolah seni dan seniman tidak punya tempat di dalam Islam, terutama di dalam masyarakat Islam Sunni. Seolah-olah Islam dan seni bagaikan air dan minyak. Islam orientasinya kesalehan, kesucian, dan keluhuran budi pekerti. Sedangkan, seni dan seniman konotasinya glamor, urakan, dan tidak taat asas budi pekerti. Asumsi dan konotasi seperti itu tidak sepenuhnya benar. Idealnya, seorang Muslim sejati lebih familiar dengan seni karena cara paling efektif menuju Tuhan ialah dengan menempuh jalur rasa (cinta). Jalur ini lebih pendek dibandingkan dengan jalur takut. Dalam Islam, Tuhan bukan sosok yang maha mengerikan untuk ditakuti, tetapi sosok yang maha penyayang untuk dicintai. Pola relasi cinta menggambarkan Tuhan immanent dan dekat. Sedangkan, pola relasi takut menggambarkan Tuhan trancendent dan jauh.

Kalau yang dimaksud dengan seniman ialah seseorang yang memiliki jiwa, rasa, bakat, dan atau watak seni, Nabi Muhammad SAW juga seniman. Hanya saja, predikat seniman untuk Nabi tentu saja seni yang sejati dan agung, sejalan dengan fitrah dan martabat luhur kemanusiaan, dan menjunjung tinggi nilai-nilai keindahan dan kehalusan budi pekerti. Dengan kata lain, seni yang mendekatkan diri manusia kepada Tuhannya. Allah Mahaindah tentu mencintai keindahan. Bukan seni yang berselera rendah, yang hanya mengacu kepada kecenderungan biologis. Dengan kata lain, seni yang menjauhkan diri manusia kepada Tuhannya.

Seni yang sesungguhnya adalah sesuatu yang agung dan mengandung nilai-nilai universal dan lebih cenderung mendekatkan diri kepada Tuhan. Memang, ada seni yang rendah, yang mengekspresikan nafsu kerendahan manusia, yang kemudian mendekatkan diri ke lumpur dosa dan maksiat, bukannya mendekatkan diri kepada Tuhan. Seni yang agung tidak pernah lekang dimakan usia. Seni yang agung selalu aktual bersama pengagumnya. Kita perlu mengapresiasi kecenderungan tersebut.

Seni yang bercorak religius ini tidak perlu takut dengan pasar karena fenomena kesadaran syar'i yang semakin tumbuh di dalam masyarakat kita ternyata memberikan pasar pada karya-karya seni agung ini. Lihatlah, misalnya lirik-lirik lagu yang bernuansa religius laku keras. Lihat pula film Ayat-ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih, dan film-film atau sinetron lain yang senapas dengannya, juga mendapatkan tempat yang berarti di dalam masyarakat.

Seni Islam tidak mesti harus bernuansa Timur Tengah (Arab). Ajaran Islam tidak identik dengan kebudayaan Arab. Islam memberikan peluang dan hak setiap budaya lokal (cultural right) untuk menampilkan, mengekspresikan, dan menafsirkan Alquran dan Hadis. Kita bisa tetap menjadi orang Indonesia, tanpa harus menyerupai orang Arab, untuk menjadi the best Muslim. "Yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa." (QS al-Hujurat ayat 13).

Memang, seni dan musik tidak banyak disinggung di dalam Alquran, tetapi Alquran itu sendiri melampaui karya seni terbaik sekali pun, dan tentu Nabi Muhammad SAW juga melampaui seniman mana pun, baik pada masa turunnya maupun pada zaman-zaman sesudahnya. Salah satu kemukjizatan Alquran ialah keindahan dan ketinggian nilai seni sastra dan bahasanya.

Karunia Tuhan
Alquran juga mengisyaratkan bahwa suara yang merdu, yang menjadi unsur penting di dalam penampilan bakat seni, merupakan karunia Tuhan yang diberikan kepada orang-orang tertentu, sebagaimana dinyatakan dalam QS Fathir (35): 1: "Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya." Dalam kitab Tafsir Fakhr al-Razi dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan keutamaan tambahan pada ayat ini ialah suara yang bagus (al-shaut al-hasan). Nilai-nilai keindahan dan kebaikan mendapatkan tempat yang positif di dalam Alquran, seperti diisyaratkan dalam QS al-A'raf (7): 32. "Katakanlah, siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?" Sindiran Alquran terhadap suara yang tidak memiliki unsur keindahan dan kasar ialah suara keledai, dinyatakan dalam QS Luqman (31):19: "Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai."

Banyak hadis menerangkan bahwa musik dan seni suara mempunyai arti penting di dalam kehidupan manusia. Para Nabi yang diutus oleh Allah SWT memiliki suara yang bagus, sebagaimana hadis Rasulullah yang diriwayatkan oleh Tirmizi dan Qatadah: "Allah tidak mengutus seorang Nabi melainkan suaranya bagus."

Dalam beberapa riwayat, Rasulullah memberikan dukungan terhadap musik dan seni suara dan tidak melarangnya secara umum, seperti diketahui dalam sikap Beliau. Hadis riwayat Bukhari dan Muslim dari Aisyah yang menceritakan dua budak perempuan pada Hari Raya Idul Adha menampilkan kebolehannya bermain musik dengan menabuh rebana, sementara Nabi dan Aisyah menikmatinya. Tiba-tiba, Abu Bakar datang dan membentak kedua pemusik tadi, lalu Rasulullah menegur Abu Bakar dan berkata: "Biarkanlah mereka berdua, hai Abu Bakar, karena hari-hari ini adalah hari raya."

Hadis riwayat Bukhari dan Muslim dari Aisyah yang mengatakan: "Saya melihat Rasulullah SAW menutupiku dengan serbannya, sementara aku menyaksikan orang-orang Habsyi bermain di masjid. Lalu, Umar datang dan mencegah mereka bermain di masjid, kemudian Rasulullah berkata, 'Biarkan mereka, kami jamin keamanan wahai Bani Arfidah'."

Dalam Hadis riwayat al-Baihaqi, sebagaimana dikutip al-Gazali, diceritakan behwa ketika Rasulullah memasuki Kota Madinah, para perempuan melantunkan nyanyian di rumahnya masing-masing: "Telah terbit bulan purnama di atas kita, dari bukit Tsaniyatil Wada. Wajiblah bersyukur atas kita, selama penyeru menyerukan kepada Allah."

Hadis-hadis sahih dan pendapat ulama terkemuka di atas menunjukkan bahwa pertunjukan seni, termasuk di dalamnya permainan alat-alat musik dan nasyid, tidak dibenarkan Rasullah SAW. Memang, ada juga riwayat yang mencela alat bunyi-bunyian seperti seruling (mazamir), tetapi hal tersebut jika musik dan bunyi-bunyian itu dimaksudkan untuk tujuan-tujuan tertentu yang bertentangan dengan syariah, misalnya seni musik mengiringi ritual kemusyrikan, seni musik yang menimbulkan fitnah, mengajak orang untuk mabuk, serta merangsang pendengarnya untuk melakukan maksiat dan melupakan Tuhan.

Seni musik bagian dari kebudayaan dan peradaban Islam yang harus dilestarikan. Sudah saatnya juga seni musik dan berbagai bentuk seni lainnya dijadikan media dakwah untuk mengajak orang berhati lembut, berpikiran lurus, berperilaku santun, bertutur kata halus, serta menampilkan jati diri dan inner beauty setiap orang.
Jumat, 14 Oktober 2011 pukul 15:51:00

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Imansipasi wanita

Imansipasi wanita
imansipasi wanita sering diterjemahkan atau diartikan dengan salah kaprah, bahwasanya kedudukan seoarang wanita harus sama dengan laki-laki dari sisi apapun. padahal dalam islam masalah imansipasi wanita sudah diatur begitu rapi oleh Alquran, tapi seseorang yang belum begitu faham dengan ajaran Islam pastilah mereka menafsirkan sebatas dengan pengetahuan akalnya, contoh imansipasi wanita dalam islam yaitu: Allah mewajibkan laki-laki dan perempuan sholat, islam tidak melarang seorang wanita mengerjakan pekerjaan seorang pria dengan tidak melanggar aturan-aturan syariat islam, wanita juga dibolehkan untuk mengangkat senjata (menjadi tentara) selama itu dibutuhkan, atau mempertahankan agama dan negara. wanita menjadi tentera tidak harus sama pakaiannya sebagaimana tentara laki-laki, wanita tetap diwajibkan untuk menutup auratnya, sehingga mereka tidak perlu membuka auratnya,

MENURUT anda bagaimanakah tentang blog ini...?

SETITIK MUTIARA WALISONGO

Para Walisongo adalah penerus dakwah Nabi Muhammad SAW, sebagai penerus atau penyambung perjuangan, mereka rela meninggalkan keluarga, kampung halaman dan apa-apa yang menjadi bagian dari hidupnya. Para Walisongo rela bersusah payah seperti itu karena menginginkan ridho Allah SWT. Diturunkannya agama adalah agar manusia mendapat kejayaan didunia dan akherat. Segala kebahagiaan, kejayaan, ketenangan, keamanan, kedamainan dan lain-lainnya akan terwujud apabila manusia taat pada Allah SWT dan mengikuti sunnah baginda Nabi Muhammad SAW secara keseluruhan atau secara seratus persen. Sebagaimana dikatakan dalam Al-Qur’an bahwa ummat Nabi Muhammad SAW diutus kepermukaan bumi adalah khusus mempunyai tanggung jawab penting. Misi pentingnya adalah untuk mengajak manusia dipermukaan bumi ini ke jalan Allah SWT. Kurang lebih lima ratus tahun yang lalu walisongo berdakwah dan berkeliling kehampir seluruh pulau jawa, maka dalam masa yang relatif singkat, yang hampir penduduknya beragama Hindu dan Budha, maka berubah menjadi kerajaan Islam Demak. Para Walisoongo mempunyai semboyan yang terekam hingga saat ini adalah 1. Ngluruk Tanpo Wadyo Bolo / Tanpo pasukan Berdakwah dan berkeliling kedaerah lain tanpa membawa pasukan. 2. Mabur Tanpo Lar/Terbang tanpa Sayap Pergi kedaerah nan jauh walaupun tanpa sebab yang nampak. 3. Mletik Tanpo Sutang/Meloncat Tanpa Kaki Pergi kedaerah yang sulit dijangkau seperti gunung-gunung juga tanpa sebab yang kelihatan. 4. Senjoto Kalimosodo Kemana-mana hanya membawa kebesaran Allah SWT. (Kalimosodo : Kalimat Shahadat) 5. Digdoyo Tanpo Aji Walaupun dimarahi, diusir, dicaci maki bahkan dilukai fisik dan mentalnya namun mereka seakan-akan orang yang tidak mempan diterjang bermacam-macam senjata. 6. Perang Tanpo tanding Dalam memerangi nafsunya sendiri dan mengajak orang lain supaya memerangi nafsunya. Tidak pernah berdebat, bertengkar atau tidak ada yang menandingi cara kerja dan hasil kerja daripada mereka ini. 7. Menang Tanpo Ngesorake/Merendahkan Mereka ini walaupun dengan orang yang senang, membenci, mencibir, dan lain-lain akan tetap mengajak dan akhirnya yang diajak bisa mengikuti usaha agama dan tidak merendahkan, mengkritik dan membanding-bandingkan, mencela orang lain bahkan tetap melihat kebaikannya. 8. Mulyo Tanpo Punggowo Dimulyakan, disambut, dihargai, diberi hadiah, diperhatikan, walaupun mereka sebelumnya bukan orang alim ulama, bukan pejabat, bukan sarjana ahli tetapi da’I yang menjadikan dakwah maksud dan tujuan. 9. Sugih Tanpo Bondo Mereka akan merasa kaya dalam hatinya. Keinginan bisa kesampaian terutama keinginan menghidupkan sunnah Nabi, bisa terbang kesana kemari dan keliling dunia melebihi orang terkaya didunia. Semboyan seperti diatas sudah banyak dilupakan umat islam masa kini. Pesan Walisongo diantaranya pesan Sunan kalijogo diantaranya adalah : 1. Yen kali ilang kedunge 2. Yen pasar ilang kumandange 3. Yen wong wadon ilang wirange 4. Enggal-enggal topo lelono njajah deso milangkori ojo bali sakdurunge patang sasi, enthuk wisik soko Hyang Widi, maksudnya adalah : Apabila sungai sudah kering, pasar hilang gaungnya, wanita hilang rasa malunya, maka cepatlah berkelana dari desa ke desa jangan kembali sebelum empat bulan untuk mendapatkan ilham (ilmu hikmah) dari Allah SWT. Para Walisongo berdakwah dengan mempunyai sifat-sifat diantaranya : 1. Mempunyai sifat Mahabbah atau kasih sayang 2. Menghindari pujian karena segala pujian hanya milik Allah SWT 3. Selalu risau dan sedih apabila melihat kemaksiatan 4. Semangat berkorban harta dan jiwa 5. Selau memperbaiki diri 6. Mencari ridho Allah SWT 7. Selalu istighfar setelah melakukan kebaikan 8. Sabar menjalani kesulitan 9. Memupukkan semua kejagaan hanya kepada Allah SWT 10. Tidak putus asa dalam menghadapi ketidak berhasilan usaha 11. Istiqomah seperti unta 12. Tawadhu seperti bumi 13. Tegar seperti gunung 14. Pandangan luas dan tinggi menyeluruh seperti langit. 15. berputar terus seperti matahari sehingga memberi kepada semua makhluk tanpa minta bayaran.

SELAMAT MEMBACA

KEPUASAN ANDA ADALAH PENGHARGAAN BAGI KAMI.
APATIS ANDA ADALAH BLUM MEMPELAJARI KAMI.
KRITIK ANDA ADALAH INTROPEKSI DIRI KAMI.