Prof Dr Nasaruddin Umar
Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta
Pertanyaan
ini menarik un tuk dikaji, apakah seni menjadi faktor dalam pro ses
pencapaian target kaum sufi atau karena perilaku sufi yang
mengekspresikan nilai seni, atau keduanya saling berkontribusi? Artinya,
seni bisa membantu melahirkan suasana batin yang halus, indah, dan
estetis. Pada saat bersamaan, jiwa sufi yang halus, lembut, dan estetis
mengekspresikan sesuatu yang bernilai seni.
Dalam lintasan sejarah dunia Islam, banyak sekali sufi yang seniman dan seniman yang jadi sufi. Bahkan, terkadang ada di antara mereka sulit membedakan mana di antara keduanya lebih menonjol pada diri seorang sufi, apakah dia sebagai sufi atau sebagai seniman. Sebut saja Jalaluddin Rumi, yang lahir di Balkh, 6 Rabiul Awal 604 H atau 30 September 1207 M. Ia dikenal bukan hanya sebagai sufi yang mampu menjadi komposer seni musik, yang lebih dikenal dengan sebutan whirling darvisis (shema), tetapi juga melalui puisinya yang terekam di dalam master piece-nya, Mathnawi, yang oleh pengikutnya disebut sebagai ‘Alquran dalam bahasa Persia’ atau wahyu tentang makna batin Alquran.
Dalam lintasan sejarah dunia Islam, banyak sekali sufi yang seniman dan seniman yang jadi sufi. Bahkan, terkadang ada di antara mereka sulit membedakan mana di antara keduanya lebih menonjol pada diri seorang sufi, apakah dia sebagai sufi atau sebagai seniman. Sebut saja Jalaluddin Rumi, yang lahir di Balkh, 6 Rabiul Awal 604 H atau 30 September 1207 M. Ia dikenal bukan hanya sebagai sufi yang mampu menjadi komposer seni musik, yang lebih dikenal dengan sebutan whirling darvisis (shema), tetapi juga melalui puisinya yang terekam di dalam master piece-nya, Mathnawi, yang oleh pengikutnya disebut sebagai ‘Alquran dalam bahasa Persia’ atau wahyu tentang makna batin Alquran.





